PBB Luncurkan Kampanye Penguatan Peran Petani Perempuan di Indonesia
PBB telah meluncurkan kampanye di Indonesia untuk memperkuat peran petani perempuan dalam ketahanan iklim dan ketahanan pangan, sementara lembaga-lembaga global mendorong pengakuan yang lebih besar terhadap kontribusi perempuan dalam pertanian dan ekonomi pedesaan.
Inisiatif ini, yang dipimpin oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa dan UN Women, dimulai di West Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dengan sesi pelatihan dan dialog kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat suara petani perempuan dan memperluas kepemimpinan mereka dalam pertanian yang tahan terhadap iklim.
Kampanye ini menandai awal kegiatan terkait dengan Tahun Internasional Petani Perempuan, yang dinyatakan oleh PBB untuk 2026 untuk menyoroti kesenjangan gender dalam sistem agrifood dan mendorong reformasi kebijakan dan investasi.
Menurut data FAO, perempuan menyumbang 41 persen dari angkatan kerja global di bidang agrifood. Namun, petani perempuan terus menghadapi akses yang tidak setara terhadap lahan, layanan keuangan, dan pelatihan pertanian. FAO memperkirakan perempuan hanya mendapatkan 82 sen untuk setiap dolar yang didapat oleh pria, sementara kesenjangan gender dalam produktivitas lahan mencapai 24 persen.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perempuan menyumbang 38 persen dari angkatan kerja pertanian negara ini, atau sekitar 14,81 juta orang. Namun banyak yang tetap rentan terhadap dampak iklim dan ketidakstabilan ekonomi.
“Memberdayakan petani perempuan berarti memberdayakan komunitas. Pengetahuan, pengalaman, dan tindakan yang dilakukan oleh komunitas sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan ketidakamanan pangan yang menjadi tantangan pembangunan terbesar zaman kita,” kata Ulziisuren Jamsran, Perwakilan UN Women Indonesia dan Penghubung ke ASEAN.
“Tahun Petani Perempuan adalah kesempatan yang tepat untuk membuat kontribusi petani perempuan terlihat, kepemimpinan mereka diakui, dan hambatan yang masih menghalangi kemajuan mereka dihapus, agar kita bisa menjamin masa depan yang berkelanjutan untuk semua,” tambahnya.
FAO dan UN Women mengatakan bahwa kampanye ini akan diperluas ke daerah lain di Indonesia sepanjang tahun ini, dengan fokus pada pertanian berkelanjutan, literasi keuangan, pemrosesan dengan nilai tambah, pemasaran, dan kepemimpinan perempuan.
“Ketidakamanan iklim tidak bersifat gender netral. Laporan FAO menunjukkan bahwa perempuan menderita kerugian finansial yang lebih besar akibat guncangan iklim seperti stres panas atau banjir, bahkan mencapai miliaran dolar setiap tahun, dan mereka harus bekerja lebih banyak jam dibandingkan pria,” kata Rajendra Aryal.
“Ketika kita menutup kesenjangan gender dan berinvestasi pada perempuan, maka semua orang akan mendapat manfaat,” tambahnya.
Di West Manggarai, program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines), melibatkan 25 petani perempuan dalam pelatihan pertanian berkelanjutan dan adaptasi iklim.
Peserta juga menyerukan dukungan yang lebih kuat untuk pertanian pintar iklim dan sistem pangan lokal, sambil mendesak pemerintah untuk memastikan perempuan dan pemuda terlibat dalam keputusan kebijakan.
“Sebagai perempuan, kita sangat membutuhkan informasi dan pengetahuan praktis tentang tindakan konkret yang dapat kita ambil untuk mengurangi dan beradaptasi dengan perubahan iklim,” kata Siti Sadyatun, seorang pemimpin petani perempuan di kabupaten tersebut.
Koordinator Program Yakines, Ferdinandus Mau Manu, mengatakan bahwa kelompok rentan, khususnya perempuan, pemuda, orang tua, dan penyandang disabilitas, adalah di antara yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim.
Dia mengatakan Yakines telah bekerja di tingkat masyarakat untuk mempromosikan pertanian pintar iklim, sistem pangan berkelanjutan, dan kepemimpinan perempuan dalam membangun ketahanan lokal.





