TEMPO.CO, Jakarta – Pasar keuangan Indonesia berakhir April dalam kekacauan. Ekuitas dan pasar mata uang sama-sama mengalami kerugian besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,03 persen dalam satu sesi pada hari Kamis, 30 April, ditutup pada 6.956,8. Rupiah tidak ada yang lebih baik, merosot ke level terendah baru dan sempat mendekati Rp17.400 terhadap dolar Amerika Serikat.
Beberapa faktor mendasari keruntuhan ini. Yang paling langsung adalah lonjakan harga minyak brent, patokan minyak global, yang telah mencapai US$121 per barel. Bagi Indonesia, yang mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah dan produk bahan bakar setiap hari, kenaikan harga minyak langsung berdampak pada tekanan pada mata uang dan neraca pembayaran.
Namun pemerintah juga sedang disiksa oleh keputusan sendiri. Alih-alih membiarkan harga bahan bakar dalam negeri naik, para pembuat kebijakan memilih untuk melindungi konsumen dengan memperluas subsidi dan pembayaran kompensasi kepada grup energi milik negara Pertamina. Dukungan ini mencakup tidak hanya solar bersubsidi dan bahan bakar Pertalite, tetapi bahkan bensin pertamax, yang sebagian besar dikonsumsi oleh pengemudi kalangan menengah dan atas.
Konsekuensinya jelas: Anggaran Negara 2026 Indonesia semakin terjerat. Defisit fiskal berisiko melebar tajam ketika pendapatan pemerintah melemah seiring dengan melambatnya ekonomi. Penerimaan pajak sudah mulai melemah, meninggalkan negara dengan posisi kas yang makin tipis pada saat yang salah.
Baca Cerita Lengkap di Majalah Tempo Bahasa Inggris






