Beranda Perang Indonesia memperingatkan operasi Israel yang menempatkan penjaga perdamaian PBB dalam bahaya berkelanjutan

Indonesia memperingatkan operasi Israel yang menempatkan penjaga perdamaian PBB dalam bahaya berkelanjutan

101
0

Indonesia Memperingatkan Operasi Israel yang Mengancam Satgas PBB di Lebanon

Pada Sabtu, Indonesia mengutuk keras operasi militer terus-menerus Israel di selatan Lebanon, memperingatkan bahwa penetrasi yang berlanjut membahayakan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam “bahaya yang berkelanjutan” setelah insiden serius ketiga dalam kurang dari seminggu yang melukai tiga personel Indonesia lagi.

Ledakan yang terjadi Jumat di desa El Addaiseh melukai tentara yang bertugas dengan Pasukan Interim PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai UNIFIL. Kementerian Luar Negeri Jakarta menggambarkan ledakan tersebut sebagai bagian dari pola yang mengkhawatirkan, mencatat bahwa ini adalah insiden serius ketiga yang melibatkan pasukannya dalam kurang dari tujuh hari.

Sebelumnya dalam minggu itu, tiga penjaga perdamaian Indonesia tewas dan lima lainnya terluka dalam insiden terpisah, pukulan paling mematikan bagi kontingen Indonesia di pasukan tersebut.

Indonesia Mendesak Dewan Keamanan untuk Bertindak

Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam sebuah pernyataan kepada Anadolu, menyebut pola insiden tersebut “benar-benar tidak dapat diterima” dan menuntut agar Dewan Keamanan PBB segera mengatasi kondisi yang memburuk di lapangan. Jakarta juga mendesak negara-negara yang menyumbangkan pasukan dan polisi untuk mengadakan pertemuan darurat guna memperkuat langkah-langkah perlindungan bagi penjaga perdamaian yang beroperasi di wilayah itu.

Kementerian tersebut juga menuntut “penyelidikan menyeluruh, transparan, dan independen” terhadap ledakan di El Addaiseh, termasuk identifikasi pelaku dan pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan.

Indonesia mengaitkan insiden tersebut langsung dengan aktivitas militer Israel di sepanjang perbatasan, memperingatkan bahwa niat Israel untuk tetap ada di selatan Lebanon berisiko memperdalam ketidakstabilan. “Operasi militer terus menerus Israel di selatan Lebanon, termasuk niat untuk tetap ada, berisiko memperdalam situasi tidak stabil dan membahayakan penjaga perdamaian PBB secara berkelanjutan,” kata kementerian.

Jenazah para tentara kembali ke Jakarta

Saat dampak diplomatik semakin meningkat, jenazah tiga penjaga perdamaian Indonesia yang tewas sebelumnya dalam minggu itu, Zulmi Aditya Iskandar, M. Nur Ichwan, dan Farizal Rhomadhon, tiba di bandara Jakarta pada Sabtu. Peti mati mereka yang dilapisi bendera diterima dalam sebuah upacara resmi yang dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan pejabat pemerintah senior.

Prabowo mengecam tajam para pelaku, mengatakan pemerintah dan rakyat Indonesia “mengecam keras segala tindakan keji yang merusak perdamaian dan mengakibatkan kehilangan prajurit terbaik bangsa kita.” Dia meminta kepada orang Indonesia untuk tetap mempertahankan komitmen mereka terhadap perdamaian dan persatuan.

Peran perdamaian Indonesia di bawah tekanan

Indonesia adalah salah satu kontributor terbesar untuk operasi perdamaian PBB di seluruh dunia dan telah menjaga penempatan jangka panjang dengan UNIFIL, pasukan yang didirikan pada tahun 1978 untuk memantau penghentian permusuhan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel. Pasukan ini, yang terdiri dari ribuan tentara dari puluhan negara, semakin tertekan karena aktivitas militer Israel di selatan Lebanon semakin intensif.

Jakarta menegaskan lagi pada Sabtu bahwa keselamatan penjaga perdamaian PBB “tidak bisa dinegosiasikan” dan bahwa setiap kerugian bagi mereka merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, memperingatkan bahwa insiden-insiden seperti itu tidak boleh tidak dijawab.