Pada paruh kedua tahun 2011, bukanlah waktu yang baik bagiku. Pekerjaan sangat membuat stres, dan apa yang semula diharapkan sebagai Kisah Romansa Musim Panas yang Hebat perlahan-lahan memudar dengan menyakitkan. Ibuku sakit, dan aku sedang merindukan ayahku yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Itu adalah badai yang sempurna, yang tidak diundang.
Sebelumnya, ketika aku mengalami masa-masa sulit, aku bisa bangkit dengan cepat. Tapi kali ini berbeda. Tiba-tiba, aku hidup dalam keadaan kecemasan tinggi. Aku masih melanjutkan hidupku – pergi kerja, pergi keluar – namun kecemasan yang mengendalikan. Harus membuat keputusan kecil saja bisa membuatku panik.
Alat penangkal kecemasan yang biasa kupakai – sibuk, memesan perjalanan, pergi berjalan-jalan panjang – tidak membantu. Aku tahu aku harus mencari seorang terapis untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, tapi itu adalah keputusan lain yang harus diambil. Setelah mencoba beberapa terapis yang tidak cocok, seorang teman merekomendasikan seseorang yang dia pikir akan cocok bagiku.
Terapisnya berasal dari Norwegia, dan ruang konsultasinya – seluruhnya bernuansa biru Delft, krem, dan warna-warna tanah – menyiripkan ketenangan hygge. Saat pertama kali masuk, aku merasa lega. Aku memberitahunya bagaimana perasaanku dan dia mengatakan bahwa aku bisa menemukan jalan keluar. Aku tidak percaya. Selama beberapa minggu berikutnya, pendekatan yang ramah, tegas, dan praktisnya menenangkan. Sekarang aku merasa didukung. Tapi kecemasanku masih melonjak.
Kemudian, selama satu sesi, saat aku terjebak dalam lingkaran berpikir berlebihan, dia berkata: “Malam ini setelah pukul 18.30 adalah “Waktu Tanpa Khawatir”.” “Apa maksudmu?” aku bertanya. “Persis seperti itu,” jawabnya. “Mulai pukul 18.30 hingga kamu bangun keesokan harinya, kamu tidak diizinkan untuk khawatir.” “Bagaimana itu akan membantu?” aku bertanya. “Dengan memberi otakmu istirahat, dan memungkinkan bagian lain dari dirimu yang tidak dikendalikan oleh kecemasan untuk kembali,” katanya. Dia mengatakan bahwa kecemasan seperti seorang preman, dan seperti preman-preman lainnya, itu harus ditempatkan pada tempatnya.
Tentu saja aku tidak percaya bahwa strategi ini akan berhasil. Aku pikir satu-satunya cara untuk keluar dari masa gelapku adalah dengan menghantam kekhawatiranku sampai mati dan memikirkannya setiap menit saat terjaga sampai aku “memecahkannya.” Tentu saja menutupnya, bahkan hanya untuk beberapa jam, akan membuatnya semakin buruk? Di situlah, dia berkata: “Kekhawatiranmu akan tetap ada di pagi hari jika kamu ingin kembali padanya.” Entah mengapa, hal ini membuatku senang.
Dengan enggan, dan dengan cemberut, aku mencoba aturannya. Malam pertama aku berhasil mengurungkan pikiran cemas hingga pukul 20. Sebelum membiarkannya kembali. Kemenangan kecil, tapi itu cukup untuk saat ini.
Beberapa minggu kemudian, terapis bertanya bagaimana kabarku. Aku bilang aku memperpanjang waktu tanpa khawatir hingga pukul 22.30, namun aku masih tidak yakin strateginya terlalu membantu. Dia bilang aku harus terus melakukannya. Jadi aku melakukannya.
Membutuhkan waktu, tapi akhirnya aku memperpanjang aturan tanpa khawatir hingga keesokan pagi. Tak lama setelah itu, sesuatu terasa klik dalam diriku. Aku merasa lebih ringan, tidak lagi naik turun di lautan kecemasan, dan mulai merasa bahagia dan optimis lagi. Aku bilang pada terapisku bahwa itu berhasil.
Setelah 18 bulan, aku merasa siap untuk melakukannya sendiri. Tidak hanya aturan tanpa khawatir saja yang melakukannya, tentu saja. Itu adalah campuran terapi bicara dan saran praktis – makan dengan baik, tidur cukup, berolahraga, tidak terburu-buru – yang membantu. Tapi aku tidak akan pernah meremehkan kekuatan menahan kekhawatiranku semalaman.
Tahun lalu, saat aku sedang berlibur di Bangkok, aku melihat sebuah tanda di sebuah bar yang berbunyi “Zona Tanpa Khawatir.” Aku menyukainya. Itu adalah pengingat bahwa aku bisa membuat hidupku menjadi zona bebas khawatir, dan bahwa kita tidak harus menjadi tawanan oleh kecemasan – terkadang kita juga bisa mengendalikan situasi.






