Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) mengatakan benda bercahaya yang terlihat melintasi langit di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kemungkinan besar adalah puing roket antariksa, menepis spekulasi di media sosial yang mengatakan itu adalah rudal.
“Bukan rudal; analisis awal menunjukkan bahwa benda tersebut kemungkinan besar adalah puing roket yang terbakar saat turun melalui atmosfer Bumi,” kata Ricko Kardoso, kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang, di Malang pada hari Minggu.
Dia mengatakan fenomena buatan manusia tersebut menunjukkan karakteristik dari yang disebut “ubur-ubur antariksa,” di mana plume asap roket memantulkan cahaya matahari dan membentuk jejak bercahaya di langit.
“Effek ubur-ubur antariksa muncul sebagai cahaya yang terbentang, menciptakan ekor plume yang memanjang. Fenomena ini sering dikaitkan dengan roket seperti Long March CZ-3B milik China, yang asapnya memantulkan cahaya matahari di ketinggian yang tinggi terhadap langit yang gelap,” kata Kardoso.
Dia menambahkan bahwa penampakan serupa terjadi secara periodik di seluruh Indonesia, termasuk di Lampung pada 4 April dan di Natuna, Kepulauan Riau, pada 9 April tahun ini.
Kardoso mengatakan bahwa kejadian seperti itu lebih mungkin terlihat di dekat khatulistiwa, di mana banyak satelit mengorbit dan di mana puing antariksa dapat kembali ke atmosfer.
Dia mendesak masyarakat untuk tidak panik jika mereka mengamati fenomena serupa di masa depan.
Benda bercahaya dilaporkan terlihat di langit Desa Slorok di Kecamatan Kromengan pada hari Sabtu (11 April), berdasarkan video amatir yang diposting di Instagram oleh akun @malang_kidulan.
“Penduduk selatan Malang terkejut oleh fenomena langit yang diduga sebagai rudal pukul 6:46 waktu setempat. Seperti yang terlihat dalam video, benda tersebut bergerak cepat sepanjang jalur horizontal pada jarak yang jauh,” tulis keterangan.
Berita Terkait: Puing roket China CZ5B melintas di langit selatan Sumatra: BRIN
Translator: Ananto P, Tegar Nurfitra Editor: Rahmad Nasution Hak cipta © ANTARA 2026







