Beranda indonisia Indonesia: Nico Syukur Dister diingat untuk warisannya dalam iman

Indonesia: Nico Syukur Dister diingat untuk warisannya dalam iman

5
0

Teolog, filsuf, dan misionaris Fr. Nico Syukur Dister, OFM, dikenang atas kontribusinya yang abadi terhadap teologi, filsafat, dan kehidupan agama di Indonesia.

Oleh Fr. Mark Robin Destura, RCJ

“Kehidupannya menunjukkan itinerarium mentis in Deum,” tulis Fr. Ignasius Ngari, OFM dalam artikel yang ditulis dan dipublikasikan di Katolikana.com, menggambarkan hidupnya sebagai perjalanan pikiran dan jiwa menuju Tuhan.

Gereja di Indonesia berduka atas meninggalnya Prof. Nico Syukur Dister, seorang imam Fransiskan, teolog, dan sarjana yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan intelektual dan pastoral.

Beliau meninggal dunia pada 11 April 2026, di Belanda pada usia 86 tahun. Kematian beliau digambarkan dalam tradisi Fransiskan sebagai “transitus,” suatu perpindahan ke kehidupan kekal.

Kehidupan yang berakar dalam panggilan

Lahir pada 7 Maret 1939, di Maastricht, Belanda, Nicolas Syukur Dister merenungkan panggilannya sejak usia muda, terinspirasi oleh guru-gurunya dan ziarah ke Lourdes.

Beliau memasuki Ordo Fransiskan (OFM) dan ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1964, merangkul kehidupan yang didedikasikan untuk misi dan studi.

Perjalan akademisnya membawanya ke Universitas Katolik Leuven di Belgia dan Universitas Münster di Jerman, di mana beliau belajar filsafat dan teologi dan kemudian memperoleh gelar doktor.

Misi di Indonesia

Pada tahun 1972, beliau tiba di Indonesia, negeri yang akan menjadi pusat misi seumur hidupnya.

Beliau mulai mengajar di Driyarkara dan kemudian di Sekolah Tinggi Kateketik “Karya Wacana” di Jakarta.

Pada tahun 1983, beliau dikirim ke Papua, di mana beliau melayani di Fajar Timur, menjadi salah satu figur yang paling berpengaruh.

Selama empat dekade, beliau mengajar teologi dan filsafat, mencakup berbagai disiplin ilmu termasuk Kristologi, metafisika, dan sejarah filsafat.

Beliau juga bertugas sebagai rektor dan pemimpin akademis, berkontribusi pada pengembangan institusi, termasuk pendirian sistem akademis dan akreditasi.

Warisan akademis yang luar biasa

Prof. Dister sangat diakui di seluruh Indonesia sebagai sosok utama dalam psikologi agama, teologi sistematis, dan filsafat Kristen.

Beliau adalah penulis beberapa karya ilmiah, termasuk setidaknya 12 buku pribadi, beberapa publikasi kolaboratif, dan puluhan artikel akademis.

Karya intelektualnya ditandai dengan kedalaman, koherensi, dan sintesis filsafat dan teologi, berakar dalam tradisi Fransiskan dan Agustinian.

Iman yang hidup dalam pelayanan

Di luar akademis, Fr. Dister menjalani kehidupan sederhana dan penuh pelayanan dalam semangat Santo Fransiskus.

Beliau aktif dalam pelayanan pastoral, terutama di antara kaum miskin, janda, dan yatim piatu, terutama melalui Yayasan Yapukepa di Sentani, Papua.

Beliau menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Biara Santo Antonius, melanjutkan karyanya mengajar, menerjemahkan teks-teks teologi, dan mendampingi umat.

Mereka yang mengenalnya mengingat kehidupannya yang disiplin, kerendahan hati, dan dedikasi yang teguh baik dalam studi maupun pelayanan.

Saksi kesederhanaan dan kebijaksanaan

Fr. Dister dikenal karena ketegasan intelektualnya dan kerendahan hati pribadinya, kualitas yang membuatnya menjadi seorang guru dan mentor yang dihormati.

Meskipun prestasinya, beliau tetap sangat berkomitmen untuk melayani orang lain, bahkan orang-orang yang pernah menganiayanya.

“Ia memberikan kesaksian intelektual yang sangat sistematis, konsisten, koheren, dan mendalam,” tulis Fr. Ngari, mencatat bahwa kepakarannya tak terpisahkan dari kehidupan pelayanannya.

Warisan yang abadi

Sepanjang hidupnya, Fr. Dister memberikan sumbangan bukan hanya dalam teologi dan filsafat akademis tetapi juga dalam pembentukan generasi mahasiswa dan klerus di Indonesia.

Pengaruhnya terus berlanjut melalui tulisannya, para muridnya, dan institusi-institusi yang telah beliau bantu bentuk.

“Ia adalah seseorang yang hidup dalam iman dan pengetahuan dengan rendah hati dalam pelayanan akademis dan sosial,” demikian kesimpulan Fr. Ngari.

Saat Gereja mengenang hidup dan misinya, Prof. Nico Syukur Dister berdiri sebagai saksi harmoni antara iman dan akal sehat, serta kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan untuk Tuhan dan umat-Nya.