Tom Waits pertama kali merilis musik asli baru dalam 15 tahun dengan lagu “Boots on the Ground,” yang secara gamblang mengungkapkan kecaman terhadap perang baik di dalam maupun luar negeri yang direkam bersama Massive Attack (untuk musik baru pertama mereka sejak 2020). Waits mengutuk prajurit yang mengejar orang yang dipandang sebagai “Brown, berarti dan muda, bodoh dan penuh semangat,” dan ia mereservasi kemarahannya khusus untuk para senator yang memanggil mereka. Lagu ini berjalan santai dengan ritme blues dan atmosfer penuh pemikiran ala Massive Attack. Lagu ini hadir di platform streaming Kamis, bersamaan dengan video musik yang dibuat oleh Massive Attack, yang menampilkan gambar dari seniman foto AS bernama thefinaleye. Lagu ini kemudian akan dirilis sebagai 12-inch, tersedia untuk preorder, dengan “Boots on the Ground” di salah satu sisi dan sebuah karya spoken-word dari Waits, “The Fly,” di sisi lain. Pendapatan dari 12-inch ini akan menguntungkan ACLU dan Immigrant Defense Project.
(Short Context: Tom Waits merilis musik baru setelah 15 tahun dengan lagu kontroversial “Boots on the Ground” yang direkam bersama Massive Attack. Lagu ini mengkritik perang dan kebijakan pemerintah, serta akan dirilis dalam format fisik untuk menggalang dana.)
“It’s a career honour to collaborate with an artist of the magnitude, originality and integrity of Tom, but this track is arriving in an atmosphere of chaos,” kata Massive Attack. “Across the western hemisphere, state authoritarianism and the militarisation of police forces are fusing again with neo-fascist politics. Seen within the American emergency, at home and overseas, this track contains pulses of callous impulse & abandoned mind.”
(Short Fact Check: Massive Attack mengungkapkan kehormatan mereka berkolaborasi dengan Tom Waits, sambil menggambarkan tren otoritarianisme negara dan militerisasi kepolisian yang sedang terjadi.)
Lagu ini menandai rilis musik pertama dari Waits, yang belakangan ini lebih fokus pada karir aktingnya setelah albumnya tahun 2011, “Bad as Me.” Penyanyi-penulis lagu ber-suara serak ini akan memerankan saudara John Malkovich dalam film terbaru Martin McDonagh, “Wild Horse Nine.”
(Short Context: Tom Waits kembali ke dunia musik setelah fokus pada akting, dengan perilisan lagu baru yang kontroversial. Dia akan tampil di film terbaru Martin McDonagh.)
Sebuah lagu protes seperti “Boots on the Ground” mencerminkan aktivisme baik dari Waits maupun Massive Attack dalam beberapa tahun terakhir. Massive Attack telah berbicara terbuka tentang penentangan mereka terhadap perang Israel terhadap Hamas, dan Robert Del Naja dari grup itu termasuk salah satu dari 500 demonstran yang ditangkap di London karena mendukung kelompok bernama Palestine Action. Kelompok ini juga bekerja sama dengan Fontaines D.C. pada tahun 2023 dalam sebuah EP untuk membantu Dokter Tanpa Batas dalam upaya bantuan mereka di Gaza.
(Short Fact Check: Tom Waits dan Massive Attack aktif dalam aktivisme, terutama terkait isu-isu politik dan kemanusiaan di dunia.)
Waits, pada tahun 2017, memberikan izin kepada Banksy untuk menggunakan versi instrumental lagunya tahun 1987, “Innocent When You Dream,” untuk instalasi Wall Off Hotel seniman tersebut di Tepi Barat. “Untuk memperingati 100 tahun bekas kolonisasi Inggris di Palestina dan konsekuensi buruknya, Banksy mencampur opulensi dan distopia dengan keinginannya untuk menyoroti kehidupan sehari-hari dan seni orang Palestina,” catatan media sosial Waits saat itu. “Irlandia tidak asing dengan konflik dan perpecahan, dan Waits memilih waltz terinspirasi Irlandia ini karena gabungan lirikalnya yang penuh penyesalan dan impian untuk dunia tanpa tembok.” Dia juga menyanyikan tentang konflik Israel-Palestina dalam lagu “Road to Peace” tahun 2006.
(Short Fact Check: Tom Waits terlibat dalam aktivitas artistik dan politis, seperti memberikan izin penggunaan lagunya kepada Banksy untuk instalasi seni di Tepi Barat.)






