Gotrade News – S&P Global Ratings menyuarakan keprihatinan tentang beban bunga utang Indonesia, yang melebihi 15% dari pendapatan pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan mengonfirmasi disiplin fiskal dan komitmen untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB.
Purbaya mengungkapkan hasil pertemuan dengan S&P di Washington DC pada hari Senin (14/04). Badan pemeringkat mencari penjelasan rinci tentang kondisi fiskal Indonesia, khususnya konsistensi defisit di bawah ambang batas 3% dari PDB.
Defisit anggaran 2025 berada pada 2,92% dari PDB dan diperkirakan akan turun menjadi sekitar 2,8% setelah tinjauan audit. Purbaya mengatakan S&P merespons positif terhadap jalur perbaikan ini.
Penerimaan pajak pada kuartal pertama 2026 mencapai Rp394,8 triliun atau 16,7% dari target tahunan Rp2.357,7 triliun. Pertumbuhan pengumpulan menunjukkan momentum kuat dengan 30% pada bulan Januari dan 20,7% selama periode Januari-Maret.
Implikasi Pasar
S&P akhirnya mempertahankan peringkat BBB Indonesia dengan outlook stabil, dengan merujuk pada pertumbuhan ekonomi Q4 2025 yang membaik. Status investasi ini penting untuk akses pasar modal dan biaya pinjaman yang kompetitif.
Pemerintah sedang memperkuat pendapatan melalui reformasi pajak dan intensifikasi bea cukai, termasuk restrukturisasi organisasi. Purbaya menekankan pemantauan terus-menerus untuk memastikan kondisi ekonomi tetap sehat dan “situasi fiskal tidak memburuk dari sisi pembayaran bunga.”
Sumber:
[note: context and fact check notes can be added here if needed]
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/12/11/7d747ccfab1b06ce9dbe997021dcf82e-YSP02553.jpg)






