Jakarta – Indonesia telah mencatat 23 medali emas dalam sejarah acara Kejuaraan Dunia BWF atau dikenal sebagai Kejuaraan Dunia BWF.
Kejuaraan Dunia BWF akan kembali berlangsung bulan ini, pada 25-31 Agustus 2025, di Adidas Arena, Paris, Prancis. Ini adalah edisi ke-29 sejak pertama kali diadakan pada tahun 1977.
Dari total medali emas yang dimiliki oleh Indonesia dalam acara ini, ganda putri adalah satu-satunya sektor yang belum berkontribusi. Angka ini tercatat hanya memiliki tiga medali perak dan empat medali perunggu.
Ganda putra adalah sektor paling sukses dalam sejarah Kejuaraan Dunia sejauh ini. Angka ini telah mengumpulkan 10 medali emas, termasuk kesuksesan Hendra Setiawan.
Hendra tercatat sebagai naik podium pertama sebanyak empat kali dengan dua pasangan yang berbeda. Kesuksesannya terbesar adalah saat bersama Mohammad Ahsan, yang memenangkan acara ini tiga kali (2013, 2015, dan 2019).
Di posisi kedua adalah sektor tunggal putra yang telah mengamankan enam medali emas. Gelar ini terus berlanjut selama dua dekade sejak Taufik Hidayat pada tahun 2005.
Selanjutnya, sektor dengan jumlah gelar terbanyak ketiga adalah ganda campuran. Liliyana Natsir sama dengan Hendra Setiawan dengan empat gelar, dua masing-masing dengan Nova Widianto dan dua lainnya dengan Tontowi Ahmad.
Kemudian tunggal putri sejauh ini hanya mengumpulkan dua medali emas dari acara bergengsi ini atas nama Verawaty Fadjrin dan Susi Susanti. Paceklik gelar ini telah terjadi sejak Susi menempati podium tertinggi pada tahun 1993 di Birmingham, Inggris.
Medali emas pertama Indonesia dari acara ini diamankan dalam edisi pertama di Malmo melalui ganda putra Tjun Tjun/Johan Wahjudi. Pasangan itu memenangkan setelah mengalahkan rekan senegara mereka Ade Chandra/Christian Hadinata di final.
Pada waktu itu Denmark mendominasi dengan tiga medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Dominasi itu dilengkapi dengan kesuksesan Lene Koppen memenangkan emas dalam tunggal dan ganda campuran.
Dalam edisi kedua di Jakarta 1980, Indonesia sebagai tuan rumah berhasil mengirim delapan wakil ke final dari semua sektor dan menciptakan tiga pertandingan Final All Indonesia. Itu adalah edisi paling sukses bagi Indonesia.
Indonesia akhirnya memenangkan empat medali emas, kecuali di ganda putri yang diambil oleh perwakilan Inggris. Pada waktu itu Christian Hadinata memastikan dua emas dalam ganda putra dan ganda campuran.
Keberhasilan terbesar Indonesia di Kejuaraan Dunia kemudian terjadi pada 1993. Saat itu, sektor tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putra berhasil mengamankan medali emas.
Medali emas terakhir Indonesia dari Kejuaraan Dunia diperoleh di edisi 2019 melalui Hendra/Ahsan. Setelah itu, capaian terbaik Indonesia dalam turnamen tersebut adalah dua medali perak.







