Oleh Cepi Setiadi
Indonesia telah memulai impor minyak mentah dari Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk memperkuat keamanan energi nasional dan mendiversifikasi sumber pasokan di tengah kondisi pasar global yang semakin ketat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengkonfirmasi bahwa pengiriman dari AS telah dimulai, meskipun ia tidak mengungkapkan volume spesifik.
 “Impor minyak mentah dari Amerika Serikat telah dimulai,†ujar Bahlil kepada wartawan di Kementerian ESDM pada Jumat (10 April).
Langkah ini merupakan kelanjutan dari rencana pemerintah sebelumnya untuk mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah, di mana ketegangan geopolitik telah menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pasokan— khususnya di jalur transit kunci seperti Selat Hormuz. Sebelumnya, pemerintah memperkirakan sekitar 20–25% impor minyak mentah Indonesia melewati koridor tersebut.
Dalam strategi yang direvisi, sebagian volume ini dialihkan ke pemasok di AS sebagai langkah pencegahan, mencerminkan upaya Jakarta untuk mengurangi paparan terhadap risiko regional sekaligus memastikan pasokan bahan bakar dalam negeri stabil.
Baca juga : Indonesia mempertimbangkan impor energi yang lebih luas, termasuk Rusia
Bahlil mengatakan kebijakan ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Kerjasama Perdagangan Timbal Balik (ART), yang mencakup ketentuan untuk meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat.
Selain AS, Indonesia tetap terbuka untuk mendapatkan minyak mentah dari berbagai pemasok, termasuk Rusia, karena persaingan untuk muatan semakin intensif di pasar global.
“> “Kita tidak boleh terlalu selektif. Kita dapat mengimpor dari negara manapun, selama pasokan terjamin,†ujar Bahlil, menekankan perlunya fleksibilitas dalam pengadaan.
Dia mencatat bahwa menyusutnya pasokan dan naiknya harga membuat semakin sulit bagi pembeli untuk mengamankan pengiriman, bahkan melalui tender resmi. Penjual, tambahnya, cenderung memprioritaskan pembeli yang bersedia menawarkan harga yang lebih kompetitif.
 “Hal ini menunjukkan bahwa para penjual akan memprioritaskan pembeli yang menawarkan harga lebih tinggi. Oleh karena itu, pemerintah sedang menyiapkan beberapa alternatif,†ujarnya.
Menteri tersebut menegaskan bahwa memastikan ketersediaan bahan bakar dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah, terutama ketika ketegangan geopolitik dan gangguan terhadap jalur pasokan kunci terus membentuk ulang aliran perdagangan energi global.
Edit oleh Reiner Simanjuntak




