JAKARTA – Pelatih Gennaro Gattuso memilih untuk mengundurkan diri setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Mantan pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini dan Antonio Conte, adalah kandidat kuat untuk kembali mengelola Gli Azzurri.
Gattuso akhirnya pergi setelah kurang dari setahun mengelola tim nasional Italia. Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut menjadi alasan utama pemecatan Gattuso. Selain itu, Gianluigi Donnaruma cs gagal hanya karena kalah adu penalti melawan tim yang dianggap rendah, Bosnia-Herzegovina.
Ironisnya, Italia begitu yakin bisa mengakhiri mimpi buruk gagal lolos ke Piala Dunia ketika bertemu Bosnia dan bukan Wales. Bahkan para pemain Italia mendoakan kemenangan Bosnia karena mereka berpikir tim yang dilatih oleh Sergej Barbarez bisa lebih mudah dikalahkan.
Pesta mereka tertangkap kamera televisi yang akhirnya menjadi viral. Tidak kurang dari perilaku para pemain Italia dikritik oleh mantan pemain Bosnia yang pernah bermain di Serie A, Miralem Pjanic.
Lebih dari itu, Pjanic mengungkapkan bahwa Bosnia akan membuat kejutan. Dan prediksi mantan bintang Juventus itu menjadi kenyataan karena Bosnia mengalahkan pasukan Gattuso melalui adu penalti.
Kekalahan memalukan itu membuat Presiden FIGC, federasi sepak bola Italia, Gabriele Gravina mengundurkan diri. Tidak hanya itu, koordinator tim nasional yang juga merupakan legenda kiper Italia, Gianluigi Buffon, juga sudah mengundurkan diri.
Akhirnya, Gattuso memutuskan untuk mengundurkan diri. Meskipun diminta untuk tetap bertahan hingga Juni ketika Italia menggelar dua uji coba, mantan pelatih AC Milan dan Napoli tersebut memilih untuk pergi.
“Dengan kesedihan dan kegagalan yang besar kami mencapai tujuan jangka pendek kami, aku merasa waktuku sebagai pelatih tim nasional sudah berakhir,” kata Gattuso dalam pernyataannya, seperti dikutip oleh Football Italia.
“Seragam Azzurri pastinya merupakan yang paling berharga dalam sepakbola. Dengan pertimbangan ini, ini adalah satu-satunya jalan yang tepat mengenai sikap federasi dalam membuat keputusan masa depan,” kata Gattuso, yang merasa terhormat telah mendapat kesempatan untuk mengelola tim nasional Italia.
“Sungguh suatu kehormatan bisa menangani tim nasional, terutama bisa bersama pemain-pemain yang memiliki komitmen dan dedikasi,” ujarnya lagi.
Gattuso menggantikan Luciano Spalletti pada Juni tahun lalu. Spalletti dipecat setelah gagal membawa Italia mempertahankan gelar di Piala Eropa 2024. Puncaknya ketika Italia dikalahkan 3-0 oleh Norwegia dalam pertandingan pertama kualifikasi Piala Dunia 2026.
Hanya saja, penunjukan Gattuso tidak terduga karena dia tidak menunjukkan performa yang meyakinkan sebagai pelatih. Gattuso hanya mampu membawa Napoli meraih Coppa Italia dan lebih sering gagal ketika menangani AC Milan, Fiorentina, Valencia hingga Marseille.
Dia memang mencatat hasil yang cukup impresif dengan membawa Italia meraih enam kemenangan, satu kekalahan dan satu seri dari delapan pertandingan. Namun, kematangan dan pengalaman akhirnya menjadi penentu.
Dalam adu penalti melawan Bosnia, Gattuso dengan mengejutkan memilih Francesco Pio Esposito, yang masih muda, sebagai eksekutor pertama. Membawa beban mental yang berat, striker Inter Milan berusia 20 tahun itu gagal menyelesaikan eksekusi setelah tendangannya melambung.
Akibatnya, hanya Sandro Tonali yang bisa menyelesaikan tugas itu. Sementara empat eksekutor Bosnia bisa menyelesaikan eksekusi untuk menang 4-2.
Dengan kepergian Gattuso, sejumlah pelatih telah disebut-sebut untuk mengelola tim nasional. Mancini dan Conte, yang pernah melatih Italia, adalah kandidat.
Selain itu, ada Massimiliano Allegri yang saat ini melatih AC Milan. Namun, Mancini diprediksi memiliki peluang terbesar untuk kembali mengelola tim nasional.






