Beranda indonisia Indonesia Menghidupkan Kembali Dana Stabilisasi Obligasi, Menolak Hiperinflasi

Indonesia Menghidupkan Kembali Dana Stabilisasi Obligasi, Menolak Hiperinflasi

429
0

Gotrade News – Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menghidupkan kembali Dana Stabilisasi Obligasi (BSF) untuk membela pasar obligasi pemerintah lokal. Mekanisme ini dirancang untuk menyerap tekanan penjualan dari investor asing di pasar hutang domestik.

Purbaya menjelaskan desain BSF sebagai sederhana dengan sengaja, bertujuan untuk menjaga harga obligasi tetap stabil tanpa mudah terpengaruh oleh arus modal asing. Implementasinya akan diselaraskan dengan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

Poin Penting: – Dana Stabilisasi Obligasi dihidupkan kembali untuk membela pasar obligasi pemerintah lokal dari volatilitas yang dipicu asing – Sumber pendanaan diperluas karena tidak hanya mengandalkan Surplus Anggaran Negara atau SAL – Inflasi April 2026 mencatat 2,4%, jauh di bawah ambang batas hiperinflasi

Pendanaan tidak hanya akan bergantung pada Surplus Anggaran Negara atau SAL. Sejumlah lembaga dan kendaraan misi khusus di bawah Kementerian Keuangan akan berpartisipasi dalam skema stabilisasi.

Purbaya mengatakan desain asli melibatkan beberapa institusi, termasuk semua kendaraan misi khusus di bawah keuangan. Entitas tersebut akan turun tangan setiap kali pemerintah perlu menstabilkan harga obligasi di pasar sekunder.

Tekanan yang dipicu asing terhadap pasar SBN saat ini dinilai dapat dikelola, menurut kementerian keuangan. Purbaya menyatakan bahwa kapasitas pendanaan untuk operasi BSF juga tetap memadai pada tahap ini.

Mengenai inflasi, Purbaya menolak narasi hiperinflasi yang beredar di media sosial. Inflasi April 2026 tercatat 2,4%, turun dari 3,48% pada Maret 2026 menurut data resmi.

Purbaya berpendapat bahwa bahkan bacaan 4% hingga 5% tidak akan memenuhi definisi hiperinflasi menurut standar makroekonomi. Ia menganggap narasi media sosial sebagai kesalahan dalam memahami definisi yang mendasar.

BSF yang aktif dipadukan dengan penurunan inflasi memberikan landasan yang lebih konkret bagi stabilitas makro. Bagi investor ritel, kombinasi ini penting saat mengkalibrasi risiko pada aset yang didenominasikan dalam rupiah.