Beranda indonisia Dimana Spillover Energi Terbarukan China di Indonesia?

Dimana Spillover Energi Terbarukan China di Indonesia?

11
0

Bhima Yudhistira Adhinegara dan Muhammad Zulfikar Rakhmat berpendapat bahwa Indonesia dapat memanfaatkan kelebihan kapasitas industri China bukan sebagai tongkat, tetapi sebagai katalisator.

Guncangan geopolitik ribuan mil jauhnya secara diam-diam mengubah masa depan energi Indonesia. Konflik di Timur Tengah sekali lagi mengekspos kerentanan struktural: Indonesia tetap kuat terkait dengan bahan bakar fosil, dengan sekitar 86 persen dari pembangkit listriknya masih bergantung pada batu bara dan solar. Dalam momen seperti ini, kebijakan energi tidak lagi menjadi hal abstrak. Hal itu menjadi mendesak, bahkan eksistensial.

Namun, krisis memiliki cara untuk membuka pintu. Gangguan pasokan hari ini mungkin memberikan Indonesia kesempatan langka—bukan hanya untuk bertahan hidup dari lonjakan harga minyak lainnya, tetapi untuk mempercepat transisi energi yang tertunda dalam jangka panjang melalui mitra yang tidak biasa: China.

Selama bertahun-tahun, ambisi energi terbarukan Indonesia tertinggal di belakang retorikanya. Energi terbarukan menyumbang bagian kecil dari campuran listrik, dengan tenaga surya dan angin memberikan kontribusi kurang dari 1 persen pada tahun 2025. Sementara itu, inersia struktural—terutama dalam utilitas negara PLN—telah membuat batu bara tetap dominan, dengan sekitar 60 persen dari pembangkitan masih terikat padanya. Hasilnya adalah sistem yang berintensitas karbon dan rentan secara ekonomi.

Sekarang pertimbangkan konteks global. China, kekuatan manufaktur surya dunia, menghadapi surplus historis. Harga modul fotovoltaik telah runtuh menjadi sekitar $0.10 per watt pada tahun 2024, didorong oleh kelebihan kapasitas dan persaingan sengit. Perusahaan China mendominasi rantai pasok global—dari polisilikon hingga panel jadi—dan menyumbang sebagian besar kapasitas produksi.

Ini bukan hanya cerita industri. Ini adalah cerita geopolitik.

Saat ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat dan Eropa semakin meningkat, China sedang mengalihkan surplusnya ke pasar-pasar negara berkembang. Indonesia, dengan populasi besar, permintaan listrik yang berkembang, dan sektor terbarukan yang belum berkembang, adalah tujuan alami. Perbedaan harga sangat mencolok: Modul surya China diperkirakan lebih dari 60 persen lebih murah daripada produk Barat yang sebanding. Dalam momen konstrain fiskal dan urgensi energi, kesenjangan tersebut menentukan.

Pertanyaannya, maka, bukan apakah dampak surya China akan mencapai Indonesia. Hal itu sudah terjadi. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah apakah Indonesia dapat mengubah teknologi murah tersebut menjadi perubahan struktural yang berlangsung.

Secara singkat, jawabannya sederhana. Indonesia membutuhkan implementasi yang cepat. Program 100 gigawatt yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto—yang bertujuan untuk sebagian menggantikan listrik berbasis solar di desa-desa terpencil—membutuhkan kecepatan dan skala. Manufaktur dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan ini dengan cepat. Impor dari China, difasilitasi oleh bea impor nol dan pembiayaan concessional, tidak hanya pragmatis; tetapi diperlukan.

Namun, jangka panjang lebih rumit.

Indonesia berisiko menjadi hanya penerima pasif teknologi murah, bukan peserta aktif dalam rantai nilai terbarukan. Meskipun kesuksesannya dalam memanfaatkan investasi China dalam mineral kritis seperti nikel, negara ini belum mereplikasi model itu dalam manufaktur surya, sistem penyimpanan baterai, atau infrastruktur grid.

Inilah tempat di mana kebijakan industri harus berkembang.

Sebuah “spillover” yang sejati bukan hanya tentang harga yang lebih rendah; itu tentang transfer kemampuan. Indonesia harus bernegosiasi tidak hanya untuk panel, tetapi untuk kemitraan—usaha patungan, persyaratan konten lokal, dan perjanjian lisensi teknologi yang menyematkan keahlian China dalam perusahaan domestik. Badan Usaha Milik Negara seperti PT Len, bersama PLN dan BUMN konstruksi, dapat menjadi landasan ekosistem ini, didukung oleh kendaraan pembiayaan seperti Danantara.

Sama pentingnya adalah modal manusia. Transisi dari listrik berbasis fosil ke energi terbarukan tidak hanya bersifat teknologis; itu bersifat institusional. Insinyur yang dilatih dalam sistem batu bara dan diesel harus dilatih ulang untuk surya, penyimpanan, dan grid pintar. Tanpa pergeseran ini, Indonesia berisiko mengimpor perangkat keras tanpa membangun pengetahuan untuk menjaga keberlanjutannya.

Ada, tentu saja, risiko. Bahkan rantai pasokan terbarukan tidak kebal terhadap geopolitik. Biaya pengiriman dan premi asuransi untuk modul surya telah meningkat di tengah ketidakstabilan global. Ketergantungan yang berlebihan pada satu pemasok—bahkan pemasok sekuat China sekalipun—menciptakan kerentanan sendiri.

Namun, logika mendasar tetaplah menggugah. Sesuai pepatah lama, sinar matahari dan angin tidak melewati selat Hormuz. Energi terbarukan menawarkan jalur keamanan energi yang tidak dapat ditawarkan oleh bahan bakar fosil.

Indonesia berada di persimpangan jalan. Negara tersebut dapat terus bereaksi terhadap krisis, menambal kerentanan saat muncul. Atau negara tersebut dapat menggunakan momen ini untuk mencabut ulang sistem energinya—memanfaatkan kelebihan kapasitas industri China tidak sebagai tongkat, tetapi sebagai katalisator.

Bagi China, peluang itu jelas: pasar baru, investasi yang menguntungkan, dan pengaruh geopolitik. Bagi Indonesia, taruhannya lebih tinggi. Ini bukan hanya tentang listrik yang lebih murah. Ini tentang kedaulatan—atas energi, atas industri, dan pada akhirnya, atas masa depan ekonominya.

Dampaknya sudah ada. Pekerjaan nyata adalah memutuskan apa yang akan dilakukan dengannya.

Bhima Yudhistira Adhinegara adalah Direktur Eksekutif Institut Riset Independen di Jakarta bernama Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (CELIOS).

Muhammad Zulfikar Rakhmat adalah Direktur meja China-Indonesia di institut tersebut.

Foto oleh jason hu