Beranda Sepak Bola Mengenai Dugaan Rasisme di EPA, Erick Thohir Meminta Klub I

Mengenai Dugaan Rasisme di EPA, Erick Thohir Meminta Klub I

6
0

JAKARTA – Ketua PSSI Erick Thohir telah mengkonfirmasi bahwa PSSI tidak mengizinkan adanya bentuk rasisme dalam sepakbola nasional.

Dalam latihan dan kompetisi profesional, setiap kejadian yang mengandung elemen rasisme harus diambil dengan serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan klub.

Erick menekankan bahwa sepakbola pemuda tidak hanya harus fokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis pemain. Menurutnya, pelatihan yang benar harus sejalan dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, menghormati lawan, dan patuh terhadap aturan pertandingan dan keputusan wasit.

“FIFA dan PSSI tidak mengizinkan adanya bentuk ujaran rasisme dalam sepakbola, baik secara internasional maupun nasional. Sejak usia muda, para pemain harus dibentuk dengan prinsip-prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan menghormati wasit,” ujarnya dalam pernyataan di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Oleh karena itu, Erick meminta I-League sebagai operator Elite Pro Academy (EPA) dan kompetisi Liga 1 (Super League) dan Liga 2 (Championship), serta klub-klub yang berpartisipasi dalam kompetisi, untuk terus menjaga sikap saling menghormati dan empati antar pemain.

PSSI juga meminta agar sosialisasi terkait anti-rasisme, non-kekerasan, toleransi, disiplin, patuh terhadap aturan, dan menghormati wasit terus diperkuat secara konsisten di semua tingkat EPA dan kompetisi profesional.

Selain itu, pengawasan dalam pertandingan harus diperketat agar kompetisi para pemain muda benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang sehat, aman, dan mendidik.

“Kompetisi pemuda harus menjadi tempat bagi pemain yang lebih matang, dewasa, dan mampu untuk tumbuh. Oleh karena itu, operator, klub, oficial, dan semua pemangku kepentingan harus memastikan bahwa pengembangan karakter sekuat pengembangan teknis,” katanya.

Pada kesempatan ini, Erick mengapresiasi upaya klub Bhayangkara FC dan Dewa United, asal pemain yang terlibat dalam masalah, untuk menyatukan dan merestui dua pemain, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

“Saya menghargainya karena kedua klub tetap bersatu dalam persatuan dan kesatuan sesuai dengan ajaran Pancasila. Meskipun kita berbeda daerah, kita semua bersama-sama berjuang untuk Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” katanya.