Jakarta – Webinar internasional berjudul “Interpretasi Indikator Global Burden of Disease (GBD), Ukuran GBD, dan Penggunaan GBD Compare” diselenggarakan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, indikator GBD merupakan alat pengukuran global yang memungkinkan negara-negara untuk mengamati tren penyakit, faktor risiko, dan dampaknya terhadap masyarakat dan ekonomi. Melalui platform GBD Compare, Indonesia dapat membandingkan status kesehatannya dengan negara lain dan memantau perubahan dari waktu ke waktu.
Mengapa ini penting? Karena kesehatan bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Beban penyakit secara langsung memengaruhi produktivitas kerja, pencapaian pendidikan, dan pembangunan sosial. Sebagai contoh, tingginya angka penyakit akibat polusi udara bukan hanya masalah medis tetapi juga mengurangi daya saing ekonomi. Anak-anak yang sering sakit akan mengalami kesulitan belajar, dan masyarakat yang tidak sehat akan sulit berkontribusi pada pembangunan.
Acara tersebut, yang berlangsung secara online pada 23-24 April 2026, menampilkan para ahli global, Prof. Mohsen Naghavi dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), University of Washington, dan Dr. Marie Ng dari National University of Singapore (NUS) dan IHME. Webinar ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan tentang indikator Global Burden of Diseases (GBD) dan penggunaannya dalam perencanaan kebijakan dan evaluasi kesehatan.
Dalam presentasinya, Prof. Mohsen Naghavi menekankan bahwa kualitas dan kelengkapan data adalah prasyarat kunci untuk menghasilkan perkiraan beban penyakit yang akurat. Dia menyatakan bahwa tanpa data yang memadai, proses analisis tidak dapat dilakukan secara optimal. Dia juga menambahkan bahwa keterbatasan data ini secara langsung memengaruhi representasi Indonesia di platform analisis global.
“Pada intinya, tanpa data yang cukup, Indonesia tidak dapat sepenuhnya diwakili dalam hasil dan platform visualisasi GBD,” lanjutnya.
Pernyataan ini mencerminkan tantangan yang saat ini dihadapi Indonesia dalam menjaga keberlanjutan sumber data kesehatan. Perubahan di ekosistem produksi data nasional ke depan, termasuk pengurangan implementasi survei berbasis populasi seperti Riskesdas dan Survei Kesehatan Indonesia, akan mengakibatkan data primer yang terbatas tersedia untuk platform pengukuran kesehatan di dunia dalam memperkirakan beban penyakit di Indonesia hingga ke tingkat kabupaten/kota.
Sementara itu, Dr. Marie Ng menyoroti bahwa tantangan ketersediaan data tidak hanya unik bagi Indonesia tetapi juga merupakan masalah global. Namun, hanya sedikit negara yang memiliki sistem pencatatan data yang komprehensif.
“Hanya 86 negara memiliki data registrasi vital lengkap setelah 2010,” jelas Dr. Ng.
Dia menjelaskan bahwa sistem registrasi vital yang terus-menerus mencatat kelahiran, kematian, dan penyebab kematian adalah dasar analisis demografi dan beban penyakit. Tanpa sistem seperti itu, perkiraan kesehatan harus mengandalkan pendekatan pemodelan statistik yang terbatas oleh data sebenarnya.
Pengalaman negara lain di wilayah ASEAN menunjukkan bahwa penguatan sistem data kesehatan bukanlah hal yang tidak mungkin. Singapura, misalnya, dikenal dengan sistem registrasi vitalnya yang hampir lengkap dan terintegrasi dengan sistem perawatan kesehatan, sehingga data kematian dan penyebab kematian dapat digunakan secara langsung dalam analisis kesehatan populasi. Sementara itu, Malaysia telah mengembangkan sistem registrasi kematian yang menggabungkan data registrasi sipil dengan informasi medis, termasuk penggunaan autopsi verbal untuk meningkatkan akurasi penyebab kematian di daerah yang belum sepenuhnya tercover oleh sistem registrasi. Ketersediaan data yang lebih konsisten memungkinkan kedua negara menghasilkan perkiraan beban penyakit yang lebih stabil dan akurat dalam studi Global Burden of Diseases (GBD), dibandingkan dengan negara-negara yang sistem data mereka belum optimal terintegrasi.
Dalam konteks Indonesia, pemerintah Indonesia sedang mempercepat strategi untuk memperkuat data kelahiran, kematian, dan penyebab kematian melalui integrasi sistem layanan kesehatan dan populasi. Kementerian Kesehatan memanfaatkan platform SATUSEHAT sebagai pusat untuk mengumpulkan data langsung dari fasilitas kesehatan, termasuk dari Rekam Medis Elektronik (EMDRs) di Puskesmas dan Rumah Sakit, yang kemudian secara otomatis terhubung ke Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) di Kementerian Dalam Negeri. Pilot sukses dari integrasi ini telah dilakukan, di mana data kelahiran yang dicatat di fasilitas kesehatan dapat langsung diterima oleh sistem populasi untuk mempercepat penerbitan akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), dan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Pendekatan ini secara bersamaan mengubah mekanisme pencatatan dari pasif dan bergantung pada pelaporan publik menjadi sistem yang lebih proaktif dan berbasis layanan (titik perawatan) dan membuka peluang untuk pencatatan penyebab kematian lebih akurat melalui sertifikasi medis.
Sejalan dengan transformasi digital dalam pelayanan kesehatan, pengembangan platform SATUSEHAT membuka peluang baru untuk memperkuat sistem data kesehatan nasional. Dengan pendekatan pengelolaan data yang terintegrasi dan aman, platform ini memiliki potensi untuk menjadi sumber data yang berkelanjutan sambil menjaga kerahasiaan data pribadi dan mendukung analisis beban penyakit yang lebih akurat.
Webinar ini berfungsi sebagai pengingat bahwa angka beban penyakit untuk setiap provinsi dan kabupaten/kota bukan hanya sekadar angka, tetapi lebih merupakan cerita tentang masa depan bangsa. Tanpa orang yang sehat, sulit membayangkan ekonomi yang kuat, pendidikan yang maju, atau masyarakat yang berdaya. Pembuat kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah, di sektor kesehatan, dan di luar sektor kesehatan, harus setuju bahwa kesehatan adalah landasan pembangunan nasional. (Penulis: Hardini Kusumadewi, Sri Wahyuni, Editor: Tim Kerja HDI)







