Beranda indonisia Hubungan Regional Indonesia, Perselisihan Maritim, ASEAN

Hubungan Regional Indonesia, Perselisihan Maritim, ASEAN

159
0

Krisis ekonomi, kerusuhan masyarakat, dan jatuhnya Suharto

Pada bulan Juli 1997, Thailand dilanda krisis moneter yang dengan cepat menyebar ke negara-negara lain di Asia Timur dan Tenggara. Ekonomi Indonesia sangat rentan karena rupiah terkait erat dengan dolar AS dan sebagian besar pinjaman di sektor swasta bersifat jangka pendek. Masyarakat Indonesia juga semakin tidak percaya pada sistem perbankan negara. Krisis ekonomi Asia secara efektif melumpuhkan ekonomi Indonesia. Untuk mendapatkan pinjaman yang sangat dibutuhkan, Suharto menandatangani perjanjian dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, sebelum dana disalurkan, Indonesia harus memenuhi beberapa kewajiban—sesuatu yang tampaknya tidak benar-benar dikehendaki oleh Suharto. Sebaliknya, dia mencari cara lain untuk mengatasi krisis keuangan negara.

Khususnya setelah kematian istrinya, Siti Hartinah Suharto, pada tahun 1996, sebagian besar masyarakat Indonesia mulai bertanya-tanya kapan Suharto akan turun. Kesehatan presiden mulai menurun, dan seiring dengan itu, ekonomi juga melemah. Memang, nilai tukar rupiah dan indeks komposit di bursa saham sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik Suharto. Namun, meskipun suasana ketidakpastian, Suharto sekali lagi terpilih menjadi presiden pada Maret 1998.

Saat situasi ekonomi terus memburuk, Suharto meninggalkan negara pada 9 Mei 1998, untuk menghadiri konferensi di Kairo. Selama ketidakhadirannya, Jakarta dilanda kekerasan, di mana sekitar 1.000 orang kehilangan nyawa. Tragedi itu dipicu oleh penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, diduga oleh anggota angkatan bersenjata. Setelah pemakaman para korban, massa marah memenuhi jalan-jalan, merampok dan membakar sektor-sektor tertentu kota ibu. Kerusuhan dimulai hampir bersamaan di berbagai bagian kota, yang mengindikasikan bahwa kerusuhan tersebut direkayasa. Namun, tidak ada provokator yang teridentifikasi.

Pada 20 Mei 1998, sebuah pertemuan massa akan berlangsung di Monumen Nasional (Monas) di pusat Jakarta. Namun, sebelum fajar pada hari acara, Amien Rais, promotor rapat, tiba-tiba membatalkannya. Para mahasiswa yang telah bersiap untuk bergabung dalam rapat kemudian pergi ke kompleks legislatif dan berhasil menduduki bangunan-bangunannya. Juga pada hari itu, 14 menteri menolak untuk menduduki jabatan dalam kabinet baru yang akan diresmikan oleh Suharto. Negara itu berada dalam keadaan kacau balau politik.

Pada 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden, dan Wakil Presiden B.J. (Bacharuddin Jusuf) Habibie dilantik sebagai presiden baru. Habibie mewarisi negara yang arus politik dan ekonominya telah tumbuh cukup kuat—tetapi semakin bergejolak—di bawah sekitar tiga dekade Orde Baru.