Beranda indonisia Polisi Indonesia menahan 14 orang setelah kerusuhan atas pertandingan sepak bola di...

Polisi Indonesia menahan 14 orang setelah kerusuhan atas pertandingan sepak bola di Papua

1
0

JAKARTA: Polisi di Papua telah menahan 14 orang menyusul kerusuhan di Stadion Lukas Enembe di Desa Harapan, kabupaten Jayapura, karena Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) masih berada di bawah pengawasan dari badan sepak bola dunia FIFA untuk insiden tewasnya penyerbuan stadion Kanjuruhan 2022 di kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kerusuhan dimulai setelah tuan rumah Perspira Jayapura kalah 1-0 dari tamu PS Adhyaksa Banten dalam pertandingan sepak bola playoff Liga 2 Indonesia pada Jumat (8 Mei).

Juru bicara Kepolisian Papua Kombes Cahyo Sukarnito mengatakan bahwa 14 orang tersebut sedang diperiksa oleh Polisi Jayapura di Doyo, kabupaten Jayapura.

“Mereka ditahan untuk memastikan keterlibatan mereka dalam kerusuhan,” katanya di kota Jayapura pada hari Sabtu, seperti dikutip oleh kantor berita Antara. “Dari laporan yang kami terima, 67 kendaraan dan empat mobil rusak, hilang, dan terbakar.”

“Seorang petugas dari Polisi Jayapura, Kompol Arjuna saat ini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Polisi Bhayangkara di kota Jayapura karena luka-lukanya,” katanya.

Cahyo mengatakan bahwa ia belum bisa memperkirakan kerugian yang disebabkan oleh kerusuhan karena nilai-nilainya masih sedang diselidiki dan didaftarkan.

“Petugas kepolisian masih mengumpulkan data untuk mengetahui kerugian kerusakan yang disebabkan oleh kerusuhan di sekitar Stadion Lukas Enembe,” katanya.

Persipura Jayapura adalah tim sepak bola profesional yang berbasis di Stadion Mandala di kota tetangga Jayapura. Stadion Lukas Enembe berfungsi sebagai stadion alternatif tim.

Tim saat ini berada di Liga 2 dan bermain di Pegadaian Championship. Kekalahan dari Adhyaksa, yang berbasis di kecamatan Kelapa Dua, kabupaten Tangerang, Banten, membuat Persipura tetap berada di Liga 2 dan gagal promosi ke Liga 1 untuk bermain di Liga Super Indonesia BRI.

Sebelumnya, Persipura menjadi juara liga paling bergengsi di Indonesia, dalam berbagai bentuk dan nama, pada musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, dan 2013.

Kerusuhan dimulai setelah pertandingan berakhir sekitar pukul 19.00 waktu setempat (17.00 waktu Jakarta) pada Jumat. Selama pertandingan, penonton menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap beberapa keputusan yang diambil oleh wasit utama Asker Nadjfalief dari Uzbekistan di lapangan, menurut Kompas.id.

Penonton melemparkan botol air mineral ke lapangan selama pertandingan. Wasit menghentikan pertandingan selama beberapa menit.

Penonton semakin marah setelah Nadjfalief meniup peluit akhir, dan mereka melemparkan lebih banyak botol air mineral dan benda lain ke lapangan.

Beberapa penonton juga menyalakan kembang api dan melemparkan petasan ke lapangan. Personel keamanan harus menggunakan perisai mereka untuk melindungi pemain Adhyaksa dan wasit saat mereka keluar lapangan ke ruang ganti.

Sebagian penonton menginvasi lapangan dan mempertahankan semangat para pemain Persipura, tetapi penonton lain mulai merusak berbagai fasilitas seperti bangku pemain serta merusak kaca di lorong pemain.

Setelah sekitar satu jam, petugas kepolisian berhasil mengusir penonton yang menduduki lapangan tetapi kerusuhan di luar terus berlanjut.

Kerumunan membakar beberapa kendaraan yang diparkir di sekitar stadion, termasuk milik Polisi Jayapura dan Satuan Brimob Polda Papua, kata Cahyo.

Kerusuhan tersebut membuat konferensi pers pasca-pertandingan dibatalkan dan pemain dari kedua tim serta pejabat pertandingan memasang barikade di dalam stadion. Mereka terlihat keluar dari stadion sekitar pukul 23.00 waktu setempat.

Pengawasan FIFA

Sementara itu, PSSI menyesalkan kerusuhan tersebut karena asosiasi tersebut masih di bawah pengawasan FIFA setelah insiden penyerbuan kanjuruhan yang mematikan selama pertandingan antara Arema FC dan rival abadinya Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2022.

Sebuah penyelidikan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan bahwa penyebab utama dari penyerbuan itu adalah penembakan 45 butir gas air mata ke kerumunan oleh polisi setelah beberapa penggemar menginvasi lapangan.

Ratusan orang melarikan diri melalui pintu keluar kecil stadion, tetapi beberapa di antaranya ditutup, menyebabkan penindasan yang membuat banyak orang tewas terinjak atau tersedak hingga mati.

Ketua panitia penyelenggara, kepala keamanan stadion dan dua petugas dari Polisi Malang serta seorang petugas dari Polda Jawa Timur kemudian dinyatakan bersalah karena kelalaian di pengadilan. Mereka dijatuhi hukuman antara satu tahun dan dua setengah tahun penjara.

“Kerusuhan di Jayapura mencemari perjalanan sepak bola kita, yang masih diawasi dan disupervisi oleh FIFA,” kata Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi di Jakarta pada Sabtu.

Insiden sepak bola paling mematikan di Asia, dengan 135 penonton meninggal akibat sesak napas, membuat FIFA memaksa reformasi pada PSSI, termasuk pergantian kepemimpinan dari Mochamad Iriawan ke menteri BUMN Erick Thohir pada tahun 2023.

Erick saat ini menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga setelah dipecat dari jabatannya di BUMN dengan pendirian Dana Aset Negara Dana Likuidasi Usaha (Danantara). – The Jakarta Post/ANN

 

Â