Beranda indonisia Indonesia bertaruh pada minyak kelapa sawit dan limbah untuk menggerakkan perubahan penerbangan

Indonesia bertaruh pada minyak kelapa sawit dan limbah untuk menggerakkan perubahan penerbangan

19
0

Indonesia mempercepat langkahnya dalam pengembangan bahan bakar aviasi berkelanjutan (SAF), dengan Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencananya untuk mengkonversi minyak kelapa sawit dan minyak bekas menjadi bahan bakar turbin pesawat (avtur), sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperluas kapasitas energi alternatif negara ini.

Berbicara pada peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial listrik di Magelang pada hari Kamis, Prabowo mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan pasokan kelapa sawit yang melimpah sambil juga meningkatkan limbah seperti minyak bekas memasak menjadi bahan bakar aviasi bernilai tinggi.

“Sekarang, bahkan bahan bakar aviasi dapat berasal dari kelapa sawit, dan kami memiliki cukup pasokannya. Bahkan, di masa depan, avtur juga dapat diproduksi dari minyak bekas memasak, limbah, minyak bekas menggoreng, kami bisa memprosesnya menjadi avtur,” ujar Prabowo seperti dikutip oleh Antara pada 9 April 2026.

Memperluas kapasitas pengolahan

Pemerintah bersiap untuk melanjutkan dengan pembangunan beberapa fasilitas pengolahan yang didedikasikan untuk mengonversi bahan baku ini menjadi bahan bakar aviasi. Inisiatif ini diharapkan akan didukung oleh investasi signifikan untuk mempercepat pengembangan di sektor tersebut.

“Segera, kita akan membuka pusat-pusat pengolahan, kilang-kilang untuk tujuan ini. Kami akan berinvestasi besar di bidang ini,” tambah Presiden.

Mengubah gangguan global menjadi peluang

Dalam sebuah rapat terpisah di Istana Kepresidenan di Jakarta, Prabowo menggambarkan konflik global yang sedang berlangsung dan gangguan pasokan energi sebagai kesempatan strategis bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi terbarukan.

Ia menekankan pentingnya mencapai kemandirian energi dengan mengembangkan biofuel dari sumber daya dalam negeri seperti singkong dan jagung, yang bisa menjadi alternatif untuk solar dan bensin.

“Dan kita juga bisa memproduksi solar dan bensin dari batubara, serta dari singkong dan jagung,” katanya.

Basis energi yang relatif tangguh

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tetap cukup terlindungi dari guncangan energi global karena cadangan energinya yang beragam dan sebagian besar berasal dari dalam negeri.

“Setelah penilaian yang cermat, ternyata kita memiliki basis ekonomi yang cukup kuat,” katanya.

Peluang dan tantangan untuk pengembangan SAF

Para analis mengatakan dorongan untuk bahan bakar aviasi berbasis bio dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar sambil merangsang industri dalam negeri, terutama di sektor pertanian dan energi terbarukan.

Institut Reformasi Layanan Penting (IESR) mencatat bahwa pengembangan biofuel memiliki potensi untuk memperkuat keamanan energi dan menciptakan nilai ekonomi di sepanjang rantai pasokan. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa standar keberlanjutan, persaingan bahan baku, dan dampak lingkungan harus dikelola dengan hati-hati.

Perspektif ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Edi Wibowo, Direktur Bioenergi di Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), telah menekankan bahwa pengembangan SAF adalah bagian integral dari strategi transisi energi lebih luas Indonesia, khususnya dalam mengurangi emisi dari sektor aviasi.