Beranda indonisia Indonesia mengatakan kunjungan AS dan Rusia mencerminkan kebijakan bebas dan aktif

Indonesia mengatakan kunjungan AS dan Rusia mencerminkan kebijakan bebas dan aktif

126
0

Jakarta (ANTARA) – Kebijakan luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” memungkinkan negara untuk mempertahankan kerjasama intensif dengan berbagai negara, kata kementerian luar negeri pada hari Kamis, saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan luar negeri bersama dengan keterlibatan senior lainnya.

Kebijakan ini memungkinkan Jakarta untuk melibatkan banyak mitra secara bersamaan, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang, mencatat kunjungan Prabowo ke Rusia dan Prancis bersamaan dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang melakukan perjalanan ke Amerika Serikat.

“Kunjungan presiden mencerminkan komitmen Indonesia untuk menjaga dialog terbuka dengan semua mitra strategis,” kata Mewengkang kepada wartawan di Jakarta setelah konferensi pers.

Dia menambahkan bahwa kunjungan tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia untuk mempertahankan saluran komunikasi terbuka dengan semua pihak di tengah situasi geopolitik yang dinamis saat ini, sambil menekankan bahwa negara ini disambut oleh semua negara kapan pun, katanya.

“Ini menunjukkan bahwa kita dapat diterima oleh siapa pun, kapan pun,” tambahnya, sambil menekankan bahwa pendekatan ini tidak boleh dianggap sebagai Indonesia “bermain di dua belah pihak.”

Pada hari Senin (13 April), Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan bilateral, di mana mereka setuju untuk meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, energi, antariksa, pertanian, industri, dan farmasi.

Setelah pertemuan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bahlil Lahadalia melakukan negosiasi dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev mengenai pembelian minyak mentah dan LPG dari Rusia.

Sementara itu, pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon untuk mendiskusikan penguatan kerjasama pertahanan.

Selama pertemuan, kedua belah pihak setuju untuk meningkatkan kerja sama pertahanan menjadi Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (MDCP) sebagai kerangka untuk meningkatkan kolaborasi dalam mencapai perdamaian dan stabilitas di wilayah Indo-Pasifik.

Diterjemahkan oleh: Nabil Ihsan, Kuntum Khaira Editor: M Razi Rahman Hak cipta © ANTARA 2026