Beranda Dunia Ulasan The Nights Still Smell of Gunpowder

Ulasan The Nights Still Smell of Gunpowder

35
0

Pembuat film Inadelso Cossa mencoba untuk menggali puing-puing psikologis dari periode mengerikan ini dengan menelusuri sejarah keluarganya sendiri; kembali ke desa di mana dia dibesarkan, pembuat film melakukan serangkaian wawancara dengan neneknya, yang kesaksiannya dianggap tidak dapat diandalkan karena dementianya yang semakin parah.

Film ini bergoyang antara kebenaran nyata dan yang dibayangkan, keadaan ambang batas yang tercermin dalam sinematografi yang menggugah. Adegan nocturnal, di mana gubuk kayu, ladang rumput, dan bahkan nenek Cossa, dibungkus dalam selimut kegelapan, menginspirasi rasa kenyamanan yang menipu. Namun, di tengah malam, hantu-hantu masa lalu masih mengendap. Cossa juga berbicara dengan saksi sejarah lain: Macuacua dan Zalina, pasangan tua, banyak menghabiskan waktu layar mereka bertengkar namun momen-momen domestik ini diwarnai dengan ketegangan. Mantan prajurit, Macuacua dulunya adalah seorang peserta dalam kekerasan terhadap warga sipil namun kini kehidupannya ditandai oleh kemiskinan. Dalam adegan yang mencolok, Macuacua mengangkat ranting pohon yang berbentuk seperti senapan dan mengulang rute patroli dari masa mudanya dengan kesungguhan yang mengejutkan. Ketika ingatan ototnya berperan, masa lalu dan masa kini pun berkolaps bersama dengan efek mengejutkan.

Bagi Cossa, sejarah disuling dalam jenis gestur semacam ini, melampaui waktu linear. Meskipun film ini diawali dan diakhiri dengan rekaman arsip, sutradara lebih memprioritaskan bentuk dokumentasi non-tradisional, seperti monolog, lagu, dan reenactment. Meskipun pendekatan ini mencerminkan kerapuhan ingatan, namun juga membuat film sulit untuk diikuti pada beberapa kesempatan. Namun, di sepanjang aliran sejarah lisan ini, apa yang kita temukan bukan hanya fakta dan angka, tetapi juga perasaan, di mana kesakitan dan penyembuhan terjalin.

Catatan Konteks: Film “The Nights Still Smell of Gunpowder” akan ditayangkan di True Story mulai 1 Mei.

Catatan Fact Check: Inadelso Cossa adalah pembuat film kedua yang mencoba menyikapi puing-puing psikologis dari Perang Sipil Mozambik yang berlangsung dari 1977 hingga 1992.