Beranda indonisia Indonesia menggali potensi ASEAN, pariwisata domestik di tengah dampak perang Iran

Indonesia menggali potensi ASEAN, pariwisata domestik di tengah dampak perang Iran

35
0

Ikuti liputan langsung kami di sini.

JAKARTA – Pemerintah sedang mendorong strategi untuk meningkatkan pariwisata lintas batas di Asia Tenggara dan menggalakkan pariwisata domestik sebagai penyangga terhadap dampak perang Amerika Serikat-Israel-Iran, yang telah mengganggu penerbangan global.

Ny. Ni Made Ayu Marthini, wakil marketing Kementerian Pariwisata, menekankan perlunya beralih fokus dari pasar jarak jauh ke pasar jarak pendek, khususnya pasar ASEAN.

“Negara-negara ASEAN perlu bekerja sama daripada bersaing,” kata Ny. Made kepada Jakarta Post selama wawancara pada tanggal 14 April, menambahkan bahwa blok regional tersebut memiliki kerangka kerja yang didedikasikan untuk mendukung pariwisata lintas batas.

Namun, dia menyadari bahwa konektivitas dan perjalanan yang lebih mudah ke Indonesia tetap menjadi tantangan utama dalam menarik lebih banyak wisatawan asing. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pasar ASEAN sendiri mencakup 41,3 persen dari 15,39 juta total kunjungan wisatawan asing pada tahun 2025.

Meskipun memiliki geografi yang luas dan potensi situs wisata yang beragam, Indonesia masih tertinggal dari rekan-rekan regionalnya. Data terbaru dari Divisi Statistik ASEAN menempatkan Indonesia di posisi kelima dalam jumlah pengunjung internasional pada tahun 2024, di belakang Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

“Fakta bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan, tantangan nomor satu adalah aksesibilitas dan konektivitas. Berbeda dengan Thailand, yang merupakan negara (tepian) daratan, Anda dapat mengemudi dan naik kereta api (menuju destinasi daratan lain),” jelas Ny. Made.

Dia juga menunjukkan bahwa armada pesawat penumpang aktif di Indonesia telah turun setengahnya dari lebih dari 700 unit sebelum pandemi Covid-19, yang melemahkan konektivitas udara. Selain itu, negara tersebut kesulitan meningkatkan aktivitas promosi karena anggaran terbatas, kata Ny. Made.

“Promosi adalah usaha yang terus menerus. Anda tidak bisa berhenti. Anda tidak bisa memiliki anggaran kecil untuk promosi karena promosi adalah investasi. Jadi saya yakin negara-negara lain di kawasan tersebut banyak menyediakan sumber daya di sana,” katanya.

Sementara itu, tantangan tetap ada dalam mempertahankan destinasi individu untuk diversifikasi penawaran pariwisata, katanya, menekankan perlunya mengurangi ketergantungan pada Bali sebagai destinasi wisata utama negara. Kementerian memproyeksikan potensi kerugian hingga 60.000 turis mancanegara akibat perang Iran dan penurunan sekitar 2,04 triliun rupiah (S$151 juta) dalam pendapatan devisa.

Dampak dari perang termasuk gangguan di bandara dan peningkatan harga bahan bakar pesawat, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang potensi dampak negatif seperti kenaikan harga di industri penerbangan.

Di tengah ketidakpastian global, Ny. Made menekankan bahwa mempromosikan pariwisata domestik adalah penyangga penting terhadap potensi penurunan pariwisata mancanegara. “Untuk pariwisata dalam negeri, kampanye Bangga Berwisata di Indonesia adalah kunci,” katanya.

“Akhir pekan panjang juga merupakan kesempatan sempurna bagi kami untuk mengajak masyarakat Indonesia berwisata di dalam negeri,” ujar Ny. Made. Dia mengatakan dia berharap kebijakan kerja dari rumah satu hari per minggu untuk pegawai negeri akan membantu mendukung perjalanan domestik.

Namun, dia menyiratkan bahwa dampak nyata kebijakan tersebut masih harus ditentukan, karena bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi. THE JAKARTA POST/ASIA NEWS NETWORK