Bank Indonesia maintains benchmark interest rate, ready for more action
(April 22): Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan selama pertemuan ketujuh dan mengatakan siap melakukan lebih banyak langkah untuk menstabilkan rupiah dan outlook inflasi dari dampak konflik di Timur Tengah.
Bank sentral mempertahankan BI-Rate pada 4,75% pada hari Rabu, seperti yang diharapkan oleh semua 39 ekonom dalam survei Bloomberg, memperpanjang masa tanpa perubahan sejak Oktober. Gubernur Perry Warjiyo juga berjanji untuk terus meningkatkan intervensi di luar negeri dan di dalam negeri untuk mendukung mata uang, yang seharusnya menguat.
“Bank Indonesia siap untuk melaksanakan perkuatan kebijakan moneter lebih lanjut yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 dalam kisaran target,” kata Warjiyo dalam sesi informasi di Jakarta.
Rupiah Indonesia, yield obligasi pemerintah 10-tahun yang menjadi patokan, dan saham tetap merugi setelah keputusan untuk tidak mengubah suku bunga.
Konflik di Timur Tengah memperburuk prospek ekonomi global dan menyempitkan ruang untuk pelonggaran moneter global, kata Warjiyo dalam sesi informasi di Jakarta. Dia menguraikan lingkungan eksternal yang penuh tantangan di mana lari ke tempat aman mengirimkan modal ke tempat berlindung, dengan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Ekonomi terbesar di Asia Tenggara telah dihantam oleh keluarnya modal, karena krisis energi global meningkatkan biaya subsidi pemerintah untuk bahan bakar dan gas, yang menambah kekhawatiran fiskal yang sudah ada. Harga minyak yang lebih tinggi juga akan memperluas defisit transaksi berjalan negara itu menjadi 0,5%-1,3% dari produk domestik bruto, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 0,1%-0,9%.
Rupiah telah merosot ke posisi terendah sepanjang masa melewati level 17.000 per dolar, menjadikannya mata uang terburuk di antara mata uang Asia bulan ini. Bank Indonesia telah meningkatkan intervensinya sebagai respons, mengirimkan cadangan devisa ke level terendah dalam dua tahun, sambil juga meningkatkan yield pada surat berharga rupiah untuk menarik dana asing dan menstabilkan mata uang.
Namun, sentimen investor tetap rapuh, sebagian karena adanya tinjauan terus-menerus oleh MSCI Inc. terhadap status pasar saham negara itu yang dapat mengarah pada penurunan.
“Tidak pastinya yang terus berlanjut terkait MSCI yang memberatkan pasar saham, keluarnya modal asing yang berkelanjutan, dan proyeksi defisit eksternal yang lebih besar menunjukkan risiko downside jangka pendek untuk rupiah,” kata Wee Khoon Chong, strategis pasar senior APAC di BNY. “Meskipun intervensi BI harus meratakan volatilitas, penarikan cadangan devisa yang cepat dapat memperburuk sentimen dan mempercepat depresiasi rupiah.”
Indonesia mulai melihat beberapa aliran modal bersih pada awal kuartal kedua, terutama ke instrumen utang pemerintah, kata Warjiyo. Aturan yang lebih ketat atas pembelian dolar juga telah mengurangi volume transaksi rata-rata pelanggan dari US$78 juta (RM308,29 juta) menjadi US$60 juta per hari, hingga 17 April, menurut data bank sentral.
Sementara itu, bank sentral akan memperbolehkan beberapa dealer utama untuk menjual kontrak FX di pasar forwards non-deliverable offshore, langkah yang dikatakan akan membantu dalam upaya stabilisasi nilai tukar.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga nampaknya telah mempercepat di kuartal pertama karena perayaan Idul Fitri dan bonus mendorong permintaan domestik, kata Warjiyo, yang mempertahankan proyeksi PDB 2026 bank sentral untuk pertumbuhan 4,9%-5,7%. Pemerintah dan bank sentral sedang berkoordinasi dalam kebijakan untuk mendukung ekonomi, tambahnya.
“Kebijakan BI tetap netral, menurut pandangan kami, menegaskan menjadi dasar kami bahwa tidak akan ada perubahan pada suku bunga tahun ini. Namun, jika tekanan eksternal memperburuk, kenaikan suku bunga tidak dapat dikecualikan,” kata Lavanya Venkateswaran, ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp.
Bank Indonesia mengharapkan inflasi tetap berada dalam targetnya 1,5%-3,5% tahun ini dan tahun depan, kata Warjiyo. Ini pun terjadi saat tetangga-tetangganya di Asia Tenggara telah terdampak keras oleh tekanan harga, dengan inflasi melewati target di Filipina dan Singapura meningkatkan proyeksi inflasi inti.
“Secara keseluruhan, kami tetap nyaman dengan pandangan kami bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam beberapa bulan ke depan,” kata Jason Tuvey, ekonom utama Emerging Markets di Capital Economics dalam sebuah catatan setelah keputusan tersebut. “Jika perang Iran berakhir segera, kami pikir ada kemungkinan kuat bahwa BI akan cenderung memotong suku bunga mendekati akhir tahun.”
Diterjemahkan oleh Chng Shear Lane







