Menurut laporan tahunan Vingroup tahun 2025, VinSpace bertujuan untuk mengembangkan dan meluncurkan satelit kecil pertamanya ke orbit pada tahun 2027 – sebuah langkah yang menandai langkah signifikan dalam transisi grup yang lebih luas menuju teknologi tinggi.
Sebuah langkah berani memasuki dunia luar angkasa
Didirikan pada November 2025 dengan modal dasar sebesar VND300 miliar (US$12 juta), VinSpace mencerminkan pergeseran strategis Vingroup dari basis real estat dan layanan tradisional menuju produksi industri dan teknologi inti.
Pham Nhat Vuong memegang 71% saham di perusahaan tersebut, sementara Vingroup memiliki 19%, dan sisanya dimiliki oleh kedua putranya. Perusahaan ini telah mendaftarkan operasinya di berbagai sektor, termasuk manufaktur pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, satelit telekomunikasi, dan transportasi udara.
VinSpace saat ini sedang membangun infrastruktur teknisnya, termasuk ruangan bersih, sistem pengujian, dan stasiun bumi. Pada saat yang sama, Tiongkok juga sedang mencari kemitraan baik di dalam negeri maupun internasional untuk membentuk ekosistem dirgantara, dengan tujuan jangka panjang untuk mengkomersialkan layanan telekomunikasi dan penginderaan jarak jauh.
Sebelum munculnya VinSpace, pencapaian Vietnam dalam pengembangan satelit sebagian besar terbatas pada proyek-proyek Pusat Antariksa Nasional Vietnam pada tahun 2013 dan 2021. Oleh karena itu, masuknya pemain swasta dipandang sebagai tonggak penting, yang menggarisbawahi meningkatnya ambisi dalam industri teknologi tinggi.
Selain bidang kedirgantaraan, Vingroup telah berekspansi ke bidang robotika, perangkat lunak, semikonduktor, dan keamanan siber – yang semakin memperkuat transformasinya menjadi konglomerat berbasis teknologi.
Keuntungan dan hambatan
Satelit kecil yang ditargetkan VinSpace biasanya memiliki berat mulai dari beberapa kilogram hingga beberapa puluh kilogram. Mereka biasanya digunakan untuk observasi bumi, pencitraan, penelitian ilmiah dan penyediaan data untuk sektor-sektor seperti pertanian, pemantauan lingkungan dan pengelolaan perkotaan.
Dibandingkan dengan sistem seperti Starlink milik SpaceX, yang didirikan oleh Elon Musk, satelit VinSpace jauh lebih sederhana dalam skala dan kompleksitas. Meskipun Starlink terdiri dari ribuan satelit yang menyediakan jangkauan Internet global, VinSpace diharapkan fokus terutama pada pengumpulan dan komersialisasi data.
Intinya, VinSpace bertujuan untuk menjadi “mata di langit”, sedangkan Starlink beroperasi sebagai “jaringan Internet di orbit”.
Meski begitu, peluncuran satu satelit kecil pada tahun 2027 masih merupakan tantangan besar. Vietnam saat ini tidak memiliki fasilitas peluncuran sendiri, yang berarti VinSpace harus bergantung pada mitra internasional untuk mengirim satelitnya ke orbit.
Sisi positifnya, masih terdapat ruang pertumbuhan yang signifikan di sektor kedirgantaraan swasta Vietnam, sehingga menawarkan peluang bagi VinSpace untuk menjadi pionir. Kekuatan finansial dan pengalaman Vingroup dalam berinvestasi di berbagai teknologi baru memberikan landasan yang kuat.
Faktor penting lainnya adalah pola pikir pengambilan risiko dari Pham Nhat Vuong. Proyek seperti VinFast telah menunjukkan kemauan untuk bergerak cepat dan berkembang dengan berani, bahkan di bawah tekanan.
Permintaan global terhadap data satelit juga meningkat pesat, khususnya di bidang pertanian presisi, pemantauan lingkungan, dan pengelolaan kota cerdas – sehingga menciptakan jalur potensial untuk komersialisasi.
Namun, tantangannya juga sama jelasnya. Dirgantara menuntut toleransi yang hampir nol terhadap kesalahan, investasi modal yang besar, dan periode pengembalian yang lama. Vietnam juga menghadapi kekurangan personel berketerampilan tinggi di bidang ini.
Persaingan internasional semakin ketat, baik perusahaan besar maupun perusahaan rintisan (startup) sudah aktif di pasar teknologi luar angkasa. Hal ini membuat jalan VinSpace ke depannya jauh dari mudah.
Dalam waktu dekat, skenario paling realistis adalah VinSpace berhasil meluncurkan satelit pertamanya dalam skala eksperimental terbatas. Komersialisasi yang lebih luas akan bergantung pada seberapa efektif perusahaan memenuhi permintaan pasar dan kendala sumber daya manusia.
Namun, jika berhasil, proyek ini akan mewakili lompatan yang signifikan – membawa Vingroup lebih dekat ke ambisinya untuk menjadi pembangkit tenaga teknologi sejati, dibandingkan hanya mengandalkan real estate dan industri tradisional.
Manh Ha





